Jepang Tak Lagi Punya Panda untuk Pertama Kalinya dalam 50 Tahun
Jangkauan Tanggerang Selatan – Jepang Tak Lagi Punya resmi kehilangan salah satu ikon yang telah lama menjadi daya tarik pariwisata dan simbol persahabatan antara negara tersebut dan Tiongkok. Panda raksasa yang selama ini tinggal di kebun binatang di Jepang, tidak lagi menghiasi negara tersebut untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir. Kepergian panda-panda yang telah menjadi bagian penting dari kebudayaan pop Jepang ini menandai berakhirnya era panjang kerjasama antara Jepang dan Tiongkok dalam pelestarian spesies yang terancam punah.
1. Panda Terakhir di Jepang Kembali ke Tiongkok
Pada Oktober 2025, panda raksasa terakhir yang tinggal di kebun binatang Jepang, Xiang Xiang, telah dipulangkan ke Tiongkok setelah selesai masa peminjaman yang sudah disepakati. Xiang Xiang, yang lahir pada 2017 di Ueno Zoo di Tokyo, telah menjadi simbol keakraban antara Jepang dan Tiongkok selama bertahun-tahun. Kembalinya panda tersebut menandai berakhirnya kehadiran panda di Jepang setelah lebih dari lima dekade.
Menurut pihak kebun binatang, Xiang Xiang yang berusia 8 tahun itu akan kembali ke pusat konservasi panda di Sichuan, China, untuk menjalani program pemuliaan dan pelestarian yang lebih besar. Kepergian Xiang Xiang ini disambut dengan rasa haru dari masyarakat Jepang yang sudah lama menyukai panda, terutama bagi mereka yang sering mengunjungi kebun binatang untuk melihat panda yang begitu langka.
2. Kerjasama Jangka Panjang antara Jepang dan Tiongkok
Sejak 1972, Jepang telah menjalin kerjasama dengan Tiongkok dalam bentuk peminjaman panda raksasa. Kerjasama ini bukan hanya bertujuan untuk konservasi spesies panda yang terancam punah, tetapi juga untuk mempererat hubungan diplomatik antara kedua negara. Melalui perjanjian yang disebut dengan “panda diplomacy”, panda-panda yang dipinjamkan ke luar negeri biasanya disertakan dengan ketentuan bahwa jika panda tersebut berhasil berkembang biak, hasil keturunannya harus dikembalikan ke Tiongkok.
Tiongkok, yang merupakan satu-satunya negara asal panda raksasa, telah lama menjadikan panda sebagai simbol nasional dan alat diplomasi. Sejak saat itu, panda telah menjadi salah satu daya tarik utama di kebun binatang Jepang, menarik wisatawan domestik dan internasional. Peminjaman panda kepada Jepang dilakukan dalam beberapa periode, dengan kebun binatang terkenal seperti Ueno Zoo di Tokyo, Adventure World di Wakayama, dan Asahiyama Zoo di Hokkaido, menjadi tempat tinggal bagi panda-panda tersebut.
Baca Juga: Kepala Kepolisian Iran Ultimatum Perusuh untuk Menyerah dalam 3 Hari!
3. Kenangan dari Xiang Xiang dan Panda-Panda Sebelumnya
Xiang Xiang bukanlah panda pertama yang menjadi ikon Jepang. Banyak warga Jepang yang merasa kehilangan, terutama para penggemar panda yang telah mengikuti perjalanan hidup panda-panda tersebut.
4. Reaksi Warga Jepang dan Pencarian Pengganti
Kepergian Xiang Xiang menimbulkan perasaan sedih di kalangan warga yang sangat menyayangi panda. Ueno Zoo, yang selama bertahun-tahun menjadi rumah bagi panda-panda terkenal, menyatakan bahwa mereka akan merindukan kehadiran panda, terutama setelah Xiang Xiang yang begitu terkenal. Pihak kebun binatang menyatakan bahwa meskipun kehilangan panda adalah hal yang berat, mereka akan terus berfokus pada pelestarian spesies lainnya dan akan terus berupaya memperkenalkan berbagai jenis satwa yang juga penting untuk konservasi.
Bagi sebagian besar warga kehadiran panda adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman kebun binatang. Panda-panda ini telah menjadi simbol kedamaian dan persahabatan antara dan Tiongkok, serta menjadi penghubung antara dua budaya yang memiliki hubungan panjang.
5. Masa Depan Konservasi Panda di Jepang
Meskipun kini tak lagi memiliki panda, pihak kebun binatang dan otoritas terkait di tetap berkomitmen untuk melanjutkan upaya konservasi satwa langka dan terancam punah. Kebun binatang di kini fokus pada berbagai spesies yang juga membutuhkan perhatian, seperti orangutan, gajah, dan macan tutul. Meskipun begitu, kepergian panda tetap meninggalkan kekosongan yang besar bagi banyak orang yang telah lama menyaksikan pesona panda sebagai bagian dari keberagaman satwa yang ada di kebun binatang.
Para ahli konservasi di berharap untuk terus bekerja sama dengan Tiongkok dan negara lain dalam rangka pelestarian satwa dan penelitian tentang ekosistem alami di berbagai belahan dunia.
6. Pandemi dan Dampaknya terhadap Program Panda
Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak signifikan terhadap pariwisata kebun binatang dan aktivitas konservasi secara umum. Selama beberapa tahun terakhir, kebun binatang di seluruh dunia menghadapi tantangan dalam hal pendapatan dan operasional, mengingat pembatasan pengunjung dan penutupan sementara. Meskipun demikian, panda tetap menjadi simbol penting dalam mempererat hubungan internasional dan melestarikan satwa yang sangat ikonik ini.
Kepergian panda-panda dari juga mencerminkan bagaimana pandemi dan tantangan lainnya mempengaruhi program peminjaman satwa antara negara-negara. Namun, hal ini juga memberikan kesempatan untuk merefleksikan pentingnya kerjasama internasional dalam pelestarian biodiversitas global.
7. Kesimpulan: Akhir Sebuah Era
Kepergian Xiang Xiang dan panda lainnya menandai berakhirnya sebuah era bagi , yang telah menikmati keberadaan panda sebagai bagian dari kebudayaan mereka selama lebih dari setengah abad. Meskipun kehilangan panda merupakan hal yang menyedihkan bagi banyak warga, kerjasama antara dan Tiongkok dalam pelestarian satwa yang terancam punah akan terus berlanjut.






