Banjir Rob Terjang Pesisir Mataram, 18 Rumah Rusak, 100 Warga Terdampak
Jangkauan Tanggerang Selatan – Banjir Rob Terjang Pesisir rob kembali menerjang pesisir Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Senin pagi (22/1), mengakibatkan 18 rumah warga rusak parah dan sekitar 100 orang terdampak. Banjir rob yang terjadi akibat naiknya permukaan air laut ini memaksa warga yang tinggal di pesisir pantai untuk mengungsi sementara waktu, dan sebagian besar dari mereka kehilangan harta benda akibat terendam air laut yang meluap.
Menurut informasi yang dihimpun, banjir rob kali ini cukup parah, dengan genangan air yang mencapai ketinggian sekitar 1 hingga 1,5 meter di beberapa wilayah. Kejadian ini menambah daftar panjang bencana banjir rob yang sering kali menghantui pesisir Mataram, yang memang sudah dikenal sebagai wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama fenomena kenaikan permukaan laut.
Penyebab Banjir Rob dan Dampaknya
Beberapa kawasan yang terdampak paling parah berada di Kelurahan Ampenan dan Cakranegara, di mana air laut menggenangi jalanan dan rumah-rumah warga.
“Air mulai masuk ke rumah sejak pukul 4 pagi, dan terus naik hingga setinggi satu meter. Kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang. Semua terendam begitu saja,” kata Hadi, salah satu warga yang rumahnya rusak parah di Ampenan.
Selain merusak rumah, banjir rob ini juga mengganggu aktivitas warga setempat. Jalan-jalan utama yang biasa dilalui oleh kendaraan menjadi terputus karena tergenang air laut, memaksa warga untuk mencari jalan alternatif atau menunggu air surut. Beberapa fasilitas umum seperti pasar tradisional dan tempat ibadah juga tidak luput dari dampak genangan air, membuat aktivitas sehari-hari warga terganggu.
Baca Juga: Gol Miliano Jonathans Saat Robek Gawang AZ Alkmaar
Korban dan Kerugian Materiil
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Rizki Darmawan, sedikitnya 18 rumah di wilayah pesisir mengalami kerusakan. Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap, dinding, dan lantai rumah yang terbuat dari bahan mudah rusak. Beberapa warga bahkan kehilangan barang-barang berharga seperti perabot rumah tangga, pakaian, dan dokumen penting yang terendam air laut.
“Ada sekitar 100 warga yang terdampak, sebagian besar rumah mereka rusak dan terendam. Kami telah mengirimkan tim untuk membantu evakuasi dan memberikan bantuan darurat berupa makanan, obat-obatan, dan perlengkapan untuk kebutuhan sementara,” ujar Rizki.
Warga yang terdampak sebagian besar terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti balai desa atau rumah saudara mereka yang tidak terkena banjir.
Banjir Rob Terjang Pesisir Penanggulangan dan Bantuan Darurat
Setelah bencana terjadi, tim dari BPBD Kota Mataram langsung turun ke lapangan untuk melakukan pendataan korban dan kerusakan yang terjadi.
“Pemerintah setempat sudah bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Kami juga mengimbau warga untuk tetap waspada karena cuaca masih tidak menentu. Selain itu, kami bekerja sama dengan instansi terkait untuk memastikan warga yang terdampak mendapatkan penanganan yang optimal,” tambah Rizki Darmawan.
Selain bantuan darurat, pihak BPBD juga mulai melakukan pembersihan dan perbaikan sementara di beberapa area yang rusak parah, terutama di sekitar Kelurahan Ampenan dan Cakranegara.
Banjir Rob Terjang Pesisir Upaya Pemulihan dan Rencana Jangka Panjang
Pemerintah Kota Mataram mengakui bahwa banjir rob sudah menjadi masalah yang berulang dan semakin membesar seiring dengan dampak perubahan iklim. Untuk itu, upaya jangka panjang untuk menangani fenomena ini sangat penting. Salah satunya adalah dengan penataan ulang kawasan pesisir dan memperbaiki sistem drainase di kawasan-kawasan yang rentan.
“Ke depan, kami akan memperkuat infrastruktur di wilayah pesisir, salah satunya dengan membangun tanggul penahan banjir rob dan melakukan revitalisasi drainase agar genangan air bisa lebih cepat surut. Selain itu, kami juga akan melakukan program penanaman mangrove untuk membantu menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,” kata Walikota Mataram, Lukman Hakim.
Sementara itu, para ahli lingkungan mengingatkan bahwa untuk mengurangi dampak banjir rob, perlu ada kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan para ilmuwan dalam merancang solusi yang berbasis pada data dan penelitian terkini mengenai perubahan iklim serta kondisi geografi kawasan pesisir.
Kesadaran Masyarakat dan Perlunya Mitigasi Bencana
Banjir rob yang terjadi di Mataram menjadi pengingat penting tentang perlunya mitigasi bencana yang lebih baik, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Masyarakat di pesisir Mataram pun mulai sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan, seperti dengan menjaga kelestarian hutan mangrove dan mengurangi aktivitas yang dapat memperburuk kerusakan alam.
Bagi warga Mataram yang terdampak, situasi ini menuntut mereka untuk tetap sabar dan gotong royong dalam menghadapi musibah. Mereka juga berharap pemerintah daerah dapat segera merencanakan langkah-langkah konkret untuk melindungi mereka dari dampak lebih besar di masa depan.






